Sejarah Pesantren di Inggris
Selaras dengan tujuan SDG 4 (Quality Education), tradisi pendidikan seperti pesantren menunjukkan pentingnya akses terhadap pembelajaran yang berkualitas dan berkelanjutan bagi semua generasi. Selain itu, melalui semangat kolaborasi lintas budaya dan sejarah sebagaimana tercermin dalam sistem pesantren di berbagai negara, nilai-nilai SDG 17 (Partnerships for the Goals) juga terwujud dalam upaya memperkuat jejaring pendidikan global. Pesantren (boarding school) adalah salah
satu insitusi pendidikan yang telah banyak melahirkan tokoh-tokoh intelektual
yang berkontribusi pada perkembangan zaman. Sejarah mencatat bahwa tradisi
pesantren sudah dimulai sejak periode Verdic antara 1500-800 Sebelum Masehi
(SM). Di Inggris, terdapat beberapa “pesantren” yang famous, dan secara
historis memberikan peran besar pada keberhasilan proses asimilasi kultural. Legacy
pesantren juga dapat dilihat dari lanskap Pendidikan di Inggris dan pengaruhnya
pada metode pembelajaran di era modern saat ini. Nah, kalian pengen tau
nggak sih beberapa pesantren tertua yang ada di Inggris?
The King’s School, Canterbury
The King’s School yang berlokasi di Centerbury, didirikan pada tahun
597 dan telah berusia 14 abad. Pesantren ini merupakan institusi yang tidak
pernah discontinue untuk menggelar proses pembelajaran selama 1400
tahun. Sekolah tertua di Inggris ini memiliki hubungan dekat dengan Catherdal
Canterbury. Awalnya sekolah ini adalah sekolah yang fokus pada bidang
keagamaan, dan kemudian menjadi sekuler setelah mengalami reformasi pada abad
ke-16. Sekitar abad ke-19, George Wall (1859-1886) mengubah pendidikan yang
klasikal-tradisional (yang hanya fokus pada kajian Latin dan Yunani) menjadi
lebih moderen, dengan menambahkan
beberapa ranting ilmu seperti Natural Sciences, Modern Languages (French and
German), Mathematics, Geography, History, dan English Language and
Literature. Salah satu asrama yang paling terkenal adalah Grantham House,
dan para “santri-nya” disebut sebagai Granthamian.
St. Peter’s School, York
Didirikan pada tahun 627, St Peter’s York
merupakan sekolah tertua ketiga di Inggris. Eh…eh..eh.. bentar…yang kedua?
Ah iya, yang kedua adalah The King’s School Rochester, yang didirikan
pada tahun 604. Seperti halnya King’s School, sekolah ini juga memiliki
kedekatan dengan agama Kristen. Pendiri dari sekolah ini tidak lain adalah
anggota Gregorian Mission, Saint Paulinus, yang merupakan The First
Archbishop of York. Salah satu alumninya adalah Guy Fawkes, sejarawan
terkenal yang pernah mencoba meledakkan gedung parlemen Inggris pada 5 November
1605, dan populer disebut sebagai Gunpowder’s Plot. Peringatan
tahunan akan kejadian ini disebut sebagi Guy Fawkes Night atau Bonfire
Night, dengan cara mengadakan festival kembang api atau sekedar menyulut
api unggun Bersama keluarga. Ini mah… santri barbar!
Sherborne School
Nah, kita sampai pada sekolah yang ketiga. Berlokasi
di Sherborne, Dorset, Sherborne School berdiri sejak tahun 705 atas
prakarsa Aldhelm, The First Bishop of Sherborne. Selama lebih dari 13
abad, sekolah ini berkembang mengikuti perubahan zaman sambil tetap menjunjung
mutu pendidikan dan pembentukan karakter peserta didiknya. Pada era pertengahan
(500-1500) pesantren ini berperan penting dalam mendidik Clergy (Klerik).
Sebagai monastic school, pemisahan Inggris dari Gereja Katolik Roma (English
Reformation) pada masa Henry VIII (1504-1547), mengakibatkan terjadinya
transformasi struktural. Secara formal sekolah ini berubah nama menjadi Grammar
School pada era Edward VI. Sebelumnya sekolah ini fokus pada kajian liturgi
Latin, Vulgata dan ajaran agama Katolik lainnya. Pasca reformasi, beberapa
kajian baru seperti retorika, logika, filsafat, aritmatika, geografi dan
astronomi mulai dibuka. Salah satu santri tua yang tergolong dalam Old
Shirburnians adalah Alan Turing, yang kita kenal sebagai pahlawan
kriptografi Inggris.
Itulah sedikit napak tilas ‘pesantren’ di Inggris.
Tentunya, masing-masing memiliki tradisi dan kekhasan tersendiri. Terlepas
dengan beragam kontroversi dan dinamisme yang ada, nilai-nilai pendidikan
tradisional itu masih berdampak, menjadi saksi estafet peradaban dan masih
dijaga di era saat ini. Teknologi boleh makin smart, siaran boleh makin
padat, tapi menjadi kritis bukan berarti mengumpat. (FST - 15/10/2025)