Apa itu GRWM? Kenapa Populer di Media Sosial?
Fenomena GRWM (Get Ready With Me) telah menjadi salah satu format konten paling populer di media sosial, terutama di TikTok dan Instagram. Secara sederhana, GRWM menampilkan proses seseorang bersiap—mulai dari memilih pakaian, merias wajah, hingga menyusun mood sebelum beraktivitas. Namun, dalam kacamata kajian sastra dan cultural studies, GRWM bukan sekadar video keseharian, melainkan sebuah narasi mikro tentang identitas, waktu, dan pengalaman hidup di era digital.
Dari perspektif budaya, GRWM dapat dibaca sebagai bentuk performativitas diri. Menggemakan gagasan Judith Butler, identitas dalam GRWM tidak hadir sebagai sesuatu yang “alami”, melainkan diproduksi melalui pengulangan gestur, bahasa, dan pilihan visual. Setiap sapuan make-up, outfit choice, hingga voice-over yang reflektif menjadi tindakan performatif yang membangun citra diri tertentu: produktif, autentik, rapuh, atau healing. Dengan demikian, GRWM bekerja seperti teks budaya—ia mengonstruksi makna melalui praktik sehari-hari yang tampak banal, tetapi sarat ideologi.
Menariknya, GRWM juga berfungsi sebagai ruang narasi personal yang menyerupai bentuk sastra lisan kontemporer. Cerita tentang kegelisahan, relasi, pekerjaan, atau kelelahan mental sering disisipkan di tengah proses bersiap. Di sini, tubuh menjadi medium penceritaan, dan rutinitas menjadi alur. GRWM memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dikemas dalam format singkat namun intim, menciptakan kedekatan emosional antara kreator dan audiens, sekaligus menantang batas antara ruang privat dan publik.
Pada akhirnya, GRWM merepresentasikan kondisi subjek modern yang hidup dalam budaya visual dan ekonomi atensi. Ia adalah praktik kultural yang menegosiasikan keaslian dan komodifikasi, ekspresi diri dan algoritma. Bagi kajian sastra Inggris dan budaya, GRWM layak dibaca sebagai teks digital yang mencerminkan bagaimana generasi kini menulis—dan menampilkan—dirinya sendiri di hadapan dunia, satu rutinitas pagi dalam satu layar vertikal.