Apa Itu Anomali Brain Rot? Antara Konten Absurd dan Resistensi Budaya
Dalam kehidupan yang akrab dengan media sosial, istilah brain rot atau brain rot anomaly kerap muncul sebagai candaan saat seseorang terlalu lama mengonsumsi konten yang dianggap tidak bermutu—seperti video TikTok absurd, meme tidak masuk akal, atau thread lucu yang tak ada ujungnya. Meski terkesan sepele, fenomena ini sebenarnya bisa dianalisis secara kritis melalui lensa Cultural Studies, sebuah bidang interdisipliner yang mengkaji hubungan antara budaya, kekuasaan, dan identitas. Alih-alih semata-mata dianggap sebagai gejala kemunduran intelektual, brain rot bisa dipahami sebagai refleksi dari kondisi budaya digital yang kompleks.
Dari sudut pandang Cultural Studies, konsumsi konten yang tampaknya tidak “berfaedah” bisa dimaknai sebagai respons terhadap tekanan sosial yang tinggi—baik dalam ranah akademik maupun kehidupan sehari-hari. Mahasiswa hidup dalam sistem yang menuntut produktivitas terus-menerus, di mana nilai seseorang sering diukur lewat pencapaian akademik, CV, atau performa online. Dalam konteks ini, konten brain rot bisa menjadi bentuk pelarian atau bahkan bentuk resistensi terhadap norma-norma budaya dominan. Di balik absurditasnya, konten seperti ini mencerminkan kelelahan kolektif, pencarian makna baru, dan dekonstruksi terhadap apa yang dianggap sebagai “budaya tinggi”.
Bagi mahasiswa yang tertarik pada kajian budaya, fenomena brain rot bukanlah sesuatu yang harus ditolak mentah-mentah. Sebaliknya, ini membuka ruang diskusi kritis: mengapa konten seperti ini begitu populer? Apa yang dilawannya secara simbolik? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap cara kita memahami identitas, waktu luang, dan makna hidup di era digital? Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, Cultural Studies membantu kita melihat bahwa bahkan hal yang tampak remeh sekalipun punya konteks sosial dan politik yang layak untuk dikaji.